Sumber : Teks asli tulisan Tan Malaka tahun 1948
Disalin oleh Jesus S. Anam ke ejaan baru. Diedit dan dimuat ke HTML oleh Ted Sprague (Agustus 2011)
Soal sikap yang penting dan tegas yang dihadapi oleh Rakyat Indonesia yang sekarang sedang memperjuangkan kemerdekaannya ialah:
1) Menerima bantuan (lahir-batin) dari blok Amerika
2) Menerima bantuan (lahir-batin) dari blok Sosialis
3) Mengadakan Blok Asia-Afrika
4) Berdiri atas self-help (kekuatan sendiri/diri sendiri) serta menerima bantuan batin (politik dan budi) dari dunia Luar
Soal itu memangnya soal lama. Semenjak Rakyat Indonesia insaf akan hak
kemerdekaannya sebagai bangsa dan menyusun segala kekuatannya untuk
mencapai kemerdekaannya itu semenjak itulah pula dia memikirkan semua
kemungkinan di atas, baik secara sistematis (teratur) atau kurang
teratur.
Tetapi kini berhubung dengan keadaan di dalam daerah Indonesia
menghadapi keadaan luar Indonesia, maka satu persatu di antara empat
soal di atas amat penting buat jaya atau gagalnya pembelaan Kemerdekaan 100% itu!
Dahulu sebelum Proklamasi 17 Agustus, di masa bergerak di dalam
haribaan “Hindia Belanda” di sekitar Dunia “Damai atau berperang” pernah
sebagian Rakyat Indonesia memihak atau berpartisipasi kepada
Internasional ini atau itu (Komunis atau Sosialis) dan kepada negara ini
atau itu. Tetapi di masa itu Rakyat Indonesia belum bertanggungjawab
sebagai satu negara merdeka terhadap negara merdeka lainnya. Resiko
(bahaya) bersimpati atau antipati kepada Internasional ini atau itu,
negara ini atau itu belum berapa langsung, sebab tanggungjawab Negara
atas simpati atau antipati itu ditanggungjawabkan oleh negara Belanda.
Tetapi sekarang bilamana buruk-baik, untung-malang Republik adalah
sebagian besar tergantung/bergantung kepada sikap-tindakan memihak
Internasional ini dan itu, negara ini atau itu, dapat benar
menguntungkan atau merugikan pembelaan kemerdekaan Indonesia. Tiap
langkah yang diambil menuju kepada Internasional atau sesuatu Negara
adalah penuh mengandung akibat, buruk atau baik. Karena itulah empat
soal di atas harus dipertimbangkan dengan teliti dan sempurna, supaya
kita jangan salah-pilih dan terjerumus ke dalam bahaya. Marilah kita
bersama-sama menambah kekurangan dan mengurangi yang berlebihan.
Suasana Dunia
Sebelum mempertimbangkan pro dan kontra soal-soal di atas, rasanya
perlu dimajukan di sini beberapa hal yang penting sekali, ialah yang
berhubungan dengan suasana dunia pada dewasa ini.
Sebermula maka pertentangan Blok Sosialis dengan Blok Kapitalis
bukanlah lagi pertentangan sistem saja, tetapi sudah memuncak kepada
pertentangan ekonomi/perekonomian, diplomasi, bahkan kemiliteran Plan
Marshall, yang bermaksud mengikat dunia kapitalis kepada Bank Amerika
sedang dijalankan di Eropa Barat, Asia Timur, dan Amerika
Tengah-Selatan. Ikatan perekonomian secara kapitalis-imperialistis ini
sudah mengikat 16 negara di Eropa Barat dan mengadakan perjanjian
perekonomian dan kemiliteran di antara 5 negara di Eropa Barat (Inggris,
Perancis, Belgia, Nederland dan Luxemburg) dan dengan Amerika Serikat
sebagai tulang punggungnya.
Blok Eropa Barat-Amerika sedang menyusun markas, latihan dan
persenjataan kemiliteran menghadapi Blok Rusia. Adapun Blok Rusia atau
Soviet pula sedang menyusun kekuatan dalam perekonomian dan kemiliteran.
Di luar kedua Blok yang bertentangan itu beradalah daerah yang luas
sekali di Asia, Afrika, Australia dan Amerika, yang negaranya belum lagi
langsung dimasukkan ke dalam kedua blok itu. Kedua blok itu masih
berusaha keras untuk mendapatkan pimpinan atau pengaruh dengan melalui
jalan ekonomi, keuangan, perdagangan, diplomasi, dan kemiliteran. Di
Yunani dan Tiongkok perebutan pimpinan dan pengaruh itu terlaksana pada
perang saudara mati-matian. Mungkin pula besok atau lusa perang saudara
seperti di Yunani dan Tiongkok itu akan pecah di Palestina, Korea,
Italia. Sedangkan di India, Burma, Siam, Vietnam, Indonesia, Australia
dan Amerika Tengah dan Selatan, perjuangan merebut pengaruh dan pimpinan
itu masih terpendam saja.
Barulah diketahui, bahwa perebutan pimpinan dan pengaruh itu bukanlah
teoritis atau platois belaka, melainkan memperkuat diri dan memperlemah
musuh, bagi masing-masing blok itu.
Maka berhubung dengan terakhir inilah, maka di dalam dunia yang
mengandung pertentangan di antara dua pihak dengan senjata di tangan
itu, buat Indonesia sebagai suatu negara merdeka, memilih sesuatu blok,
berarti memusuhi kepada yang lain. Tegasnya memilih Blok Rusia berarti
langsung atau tidak langsung memusuhi Blok Amerika. Sebaliknya memilih
Blok Amerika berarti memusuhi Blok Rusia. Seterusnya pula besok atau
lusa pertentangan Blok Amerika dengan Blok Rusia itu sekonyong-konyong
bertukar menjadi perang dunia, maka nolens volens, mau tak mau
kita sudah tergolong/terlondong hanyut ke dalam kancah peperangan. Kita
yang tiada mempunyai alat buat penyelenggaraan perang dunia, sendirinya
pula akan terpaksa menerima perlindungan dari salah satu pihak. Kalau
sebaliknya kita berada di pihak Blok Amerika, maka kita akan dipaksa
pula menerima armada, tentara dan Angkatan Udara Blok Amerika, maka kita
dipaksa “perlindungan” Indonesia, entah berapa lamanya pula.
Ringkasnya, memilih salah satu pihak yang mungkin akan berperang dengan
pihak yang lain berarti menggantungkan nasib kita sama sekali kepada
hasilnya perang dunia yang akan datang. Akan terombang-ambinglah kita
kepada semua kemungkinan hasilnya perang itu. Jikalau Rusia lambat
menangnya, maka kita akan cepat atau lambat pula ikut melaksanakan
sistem sosialisme-komunisme. Jika Blok Amerika cepat atau lambat menang,
maka Indonesia akan ikut memasuki dunia kapitalisme. Pasti sebagai
jajahan atau setengah jajahan. Jikalau blok sosialis dan blok kapitalis
tak kalah menang, artinya podo, maka kitapun akan ikut
terombang-ambing. Akhirnya kalau Blok Soviet dan Blok Amerika keduanya
hancur lebur; maka Indonesiapun akan ikut hancur luluh oleh perang
bakterilogis, biologis, klimaktologis dan atenologis.
Kemungkinan kalah menang itu mengandung bermacam-macam syarat dan
ansir! Tiadalah dapat diselenggarakan dalam satu dua kalimat saja, dan
tiadalah pula termasuk ke dalam hasrat karangan ini.
Yang perlu disebut lagi dalam karangan ini, ialah bahwa tertulis di
atas, tiada bermaksud bahwa Indonesia, yang sedang memperjuangkan
kemerdekaannya itu, bisa sama sekali melepaskan dirinya dari dunia luar.
Jauh daripada itu! Maksud cuma menjelaskan, bahwa selama mungkin
Indonesia harus menghindarkan beban yang tiada sanggup dipikulkan
kepadanya lantaran memilih salah satu/sesuatu pihak sebaliknya berusaha
mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dan memperkuat pembelaan
kemerdekaan 100%. Kalau akhirnya Indonesia terpaksa juga memilih sesuatu
pihak dan harus menanggung konsekuensi berpihak ke sini dan ke situ,
maka cara berpihak kepada siapa itu haruslah dipertimbangkan
benar-benar.
Bagaimanapun juga waktunya berpihak itu haruslah di masa Indonesia
berada di pihak dalam keadaan sekuat-kuat mungkin selama politik,
ekonomi dan militer. Ketahuilah bahwa yang lemah selamanya akan menjadi
sasaran yang kuat, ibarat ketimun yang berdampingan dengan durian.
Dalam suasana seperti tersebut di ataslah kita sekarang menghampiri dan menyelidiki soal pertama, yakni:
1) Menerima bantuan (lahir-batin) dari Blok Amerika.
Dalam prakteknya ini kelak akan berarti membangun kembali perekonomian
Indonesia menurut Plan Marshall dengan perantaraan kapitalis imperialis
Belanda yang tergabung dalam Benelux, perjanjian lima negara dan Blok
Eropa Barat yang berujung dan berpangkal di Bank Amerika!
Blok amerika yang pada masa ini cuma memikirkan strategi dan ekonomi
perang, hanya akan membolehkan Indonesia membangun ekonomi perang dan
bahan makanan untuk persediaan perang itulah yang akan diutamakan!
Industri induk, industri mesin untuk membikin mesinnya pabrik, tambang,
kapal, kereta api dan pesawat tiada akan dibenarkan samasekali. Sebab,
adanya industri berat semacam itu akan menghancurkan monopoli
Eropa/Amerika atas Asia-Afrika dan mempertinggi teknik, pengetahuan dan
kebudayaan Asia-Afrika umumnya. Lagi pula Blok Amerika dan Belanda ahli
warung sebagai opasnya di Indonesia cuma mementingkan perusahaan, yang
lekas dapat dibangunkan dan lekas memberikan keuntungan. Ringkasnya:
akan kembalilah pula kebon karet, kina, kopi, teh, dan lain-lain;
tambang minyak, arang, timah, bauxiet, nikel, emas, dan lain-lain;
pabrik kertas, tinta, pensil, dan lain-lain.
Berhubung dengan itu akan kembalilah pula pengangkutan darat, laut dan
udara ke bawah milik kekuasaan atau pengawasan Belanda sebagai opasnya
kapitalis-imperialis Amerika. Akhirnya akan tetaplah Indonesia yang kaya
raya ini menjadi “negara sapi perahan”, yang pertahanannya tetap
tergantung kepada negara asing, karena Indonesia tiada mempunyai
industri berat.
Dengan demikian, maka akan kembalilah Indonesia kepada keadaan di masa
“Hindia Belanda” mungkin dengan sedikit perubahan dalam politik. Akan
percumalah semua usaha proklamasi 17 Agustus dan akan sia-sia segala
korban harta benda, tenaga, darah dan jiwa rakyat serta pemuda yang
tiada ditaksir dengan ukuran uang itu.
2) Menerima bantuan (lahir-batin) dari Blok Sosialis
Penerimaan bantuan lahir dari Blok Rusia itu tiadalah sedemikian mudah
seperti menerima bantuan batin dari orang Mekah buat orang Islam.
Penerimaan itu tergantung kepada si pembantu sendiri. Soviet Rusia
sendiri pun tergantung kepada kekuatan dan keadaan diri sendiri. Kita
masih ingat akan pembubaran Komintern pada tahun 1943, ialah karena
kepentingan peperangan buat negara Soviet Rusia yang pada masa itu
bersekutu dengan Amerika, Inggris dan Perancis, akan melawan Jerman,
terpaksa memperhentikan propaganda Komintern, yakni, suatu organisasi
internasional yang berdasarkan pembatalan atas pemerintahnya
negara-negara Benelux itu, karena berdasarkan kapitalisme-imperialisme.
Dalam hal ini/serupa itu suatu jajahan dari negara sekutu itu tiada pula
dapat mengharapkan pertolongan lahir (seperti) senjata dari Soviet
Rusia yang pula masih berada dalam kekurangan itu. Pun sesuatu negara
yang akan menerima bantuan lahir dari Blok Rusia itu (seandainya Blok
Rusia menyanggupi) harus pula diperhatikan jarak, tempat dan tempo.
Buat negara yang berdekatan dengan tapal batas Blok Rusia, seperti
Italia, Jermania, Tiongkok dan Korea, maka kesanggupan Rusia tak akan
dirintangi oleh musuh dan sangat berjauhan dengan Blok Soviet, maka
bantuan lahir-batin sebagai bantuan, dan negara anggota sekutu perang
negara anggota lainnya menurut (hukum perang) tiadalah seimbang dengan
kerugian yang terkandung, sudahlah pasti bantuan yang akan diperoleh
kaki-tangan Blok Amerika di sekitar Indonesia (Inggris, Perancis dan
Belanda) dan dalam Republik Indonesia sendiri dari Amerika akan lebih
banyak dan lebih cepat datangnya daripada bantuan yang sanggup diberikan
oleh Blok Rusia.
Perjuangan kaum revolusioner di Indonesia akan bertambah sulit dan
bertambah berat daripada yang sudah-sudah. Blok Amerika akan bersatu
menimpa Republik Indonesia, andaikan Republik Indonesia menjadi
sekutunya Blok Rusia itu, ialah pada tingkat perjuangan kita sekarang.
3) Mengadakan Blok Asia-Afrika
Hasrat ini sudah lama terkandung dalam hati sanubari para pemimpin
Asia/Afrika yang terutama-ternama sudah mengucapkannya. Malah Jepang
sudah mencoba melaksanakannya! Oleh salah seorang diplomat di Indonesia
ini hasratnya semacam itu disebut “Third Power Policy (Politik Tengah).
Jadi maksudnya tidak memihak kepada Blok Rusia dan tidak pula memihak
kepada Blok Amerika. Yang dijadikan dasar politik tersebut, ialah
persamaan nasib, persamaan pengalaman sebagai negara-negara jajahan di
waktu yang telah silam dan persamaan perjuangan untuk dapat memiliki
kedudukan sebagai bangsa dan negara bebas di kemudian hari! Yang tidak
disebut, ialah persamaan kasta pada semua bangsa di Asia itu. Memang
mudah dan enak menyebut-nyebut persamaan nasib, pengalaman dan kedudukan
sebagai bangsa, kalau berada di atas kursi empuk di Raffles hotel atau
di tengah perdamsaan di Happy Valley, Singapore, di mana berada borjuis
dari berbagai bangsa di Asia. Tetapi persamaan itu akan hilang lenyap,
kalau masuk ke dalam pondok tani di salah satu desa di lembah Irawadi
(Burma), di pondok buruh di kota Bangkok, atau Saigon, atau di kota
Singapore sendiri.
Memangnya Nehru, Patel, Kajagopalachari, dan semua kasta Chetty (lintah
darat) India bisa bersatu mengatasi kasta Sudra dan kasta Paria (orang
yang tidak boleh diraba!), buruh dan tani di India dapat bersatu melawan
borjuis India. Juga kaum Chetty yang sudah memiliki tanahnya kaum tani
bangsa Burma di lembah Irawadi (lembah sungai Irawadi) dapat bersatu
dengan pemimpin borjuis Burma, seperti pula para petani Murba di lembah
Irawadi dapat bersatu dengan Chetty, tuan tanah di Irawadi itu.
Tetapi tiada mungkin disatukan dengan kekal buruh-tani itu, Sudra dan
Paria India dengan kaum borjuis dan lintah darat India itu sendiri.
Betapa pula lagi sukarnya pekerjaan mempersatukan tani-murba di lembah
Irawadi dengan kaum Chetty India yang memiliki tanah, dan memeras,
mengisap keringat dan darahnya tani murba itu. Mungkin pula dipersatukan
para saudagar dan tuan pabrik beras tionghoa dengan kaum feodal dan
borjuis Thailand di Siam dengan saudagar, paberikan dan tengkulak
Tionghoa, di kota bangkok dan dan lain-lainnya kota.
Tetapi mempersatukan tani dan buruh bangkok saja yang penduduknya sudah
80% terdiri dari bangsa Tionghoa dan setengah Tionghoa disamping
perekonomian yang 99% dimiliki oleh bangsa Tionghoa pula, bukanlah
pekerjaan mudah. Begitulah keadaan di kota-kota besar di Saigon, Hanoi,
Manila, dll tempat. Perpecahan politis-sosial adalah lebih besar
daripada persamaan nasib pengalaman kedudukan di antara borjuis dari
satu daerah di Asia dengan daerah lainnya di Asia juga. Apalagi di
Tiongkok perpecahan ekonomis-sosial itu sudah lebih dari 20 tahun
bertukar menjadi perang saudara yang memakan korban di antara bangsa
sendiri.
“Third Power Policy” sebagai ucapan seorang yang sedang berdansa adalah
khayal. Dalam Perang Dunia yang mungkin terjadi di hari depan, Asia pun
akan pecah menjadi dua golongan: ialah golongan borjuis dan golongan
Murba. Yang borjuisnya akan memihak kepada kelas borjuis dan blok
borjuis dunia, ialah kalau tak bisa netral lagi. Yang murbanya akan
menempati simpatik (kalau belum bisa berpihak) kepada kelas murba di
sembarang negara di dunia ini dan kepada Blok Sosialis.
Di sinilah berlakunya pepatah: “Resan (rasa) minyak ke minyak; resan
air ke air.” Memang bisa dan harus Indonesia mengadakan persatuan dengan
luar negeri, tetapi syarat yang praktis pada tingkat perjuangan
sekarang ini, ialah syarat persamaan geografis, strategis kebangsaan,
sosial-ekonomis serta kebudayaan-kejiwaan.
4) Berdiri di atas self help (kekuatan sendiri) serta menerima bantuan (lahir-batin) dari dunia luar
Seandainya kalau Republik tak berdiplomasi dan tiada menyandarkan diri
pada kerjasama dengan sesuatu negara kapitalis/imperialis menurut
Linggarjati dan Renviele, tetapi terus berjuang dengan senjata politik,
ekonomi dan militer yang ada pada kita, mungkin kemerdekaan 100% sudah
tercapai. Tetapi karena selama ini dari dua tahun Pemerintahan Republik
menyelenggarakan “kerjasama dengan Belanda”, maka Belanda, sehari demi
sehari bertambah kuat dalam politik, ekonomi dan militer. Sebaliknya
pula Republik kian bertambah lemah dalam segala hal tersebut.
Politik: Bermacam negara kecil yang tak sanggup
berdiri sendiri sudah berdiri atau sedang didirikan oleh Belanda dalam
daerah Indonesia sendiri. Pelbagai negara itu sudah diadu dombakan
dengan Republik sehingga kelak semua negara merasakan perlunya satu
wasit ialah negara Belanda, yang berpucuk pada mahkota Belanda.
Persoalan pembagian UNI dan NIS ialah persoalan pelaksanaan perbandingan
kekuasaan ekonomi antara Belanda dan Indonesia, atas pengakuan pasal 14
Linggarjati, ialah pengakuan atas pengembalian hak milik Belanda dan
Asing. Soal plebicitt sukar atau mustahillah dapat diselesaikan kalau
soal pembagian kekuasaan itu belum diselesaikan. Demikian pula soal
hubungan dengan luar negeri dan soal kemiliteran.
Ekonomis: Dengan kembalinya semua pabrik, kebun,
tambang, alat pengangkutan darat, laut dan udara serta alat keuangan
(bank-asuransi) kepada Belanda akan sudah tentu dengan sendirinya
Belanda akan tetap menuntut kekuasaan dalam ekspor, impor, duane,
devisen, dan yang sedang dijalankannya, sampai maksudnya tercapai.
Dengan adanya semua senjata ekonomi di tangan Belanda (pabrik, kebun,
tambang, pelabuhan dan pelayaran) dengan kemurahan hati Pemerintahan
Republik memberikan makanan ke daerah pendudukan, maka suburlah
tumbuhnya kembali perekonomian, perdagangan dan keuangan Belanda.
Sebaliknya pula akan tetaplah pula merosotnya perekonomian, perdagangan
keuangan Republik dan akan merosotlah pula kehidupan rakyat.
Militer: Belanda yang tak bisa masuk zonder (tanpa)
pertolongan Ingrgris dan Inggris pasti terpaksa menarik diri kembali
tentaranya, walaupun tidak diadakan “greaze fire order”
keduanya, negara tersebut (sekarang penuh oleh KTN) berduka cita melihat
tempat yang strategis, yang tak bisa direbut Belanda yang dinamai
“Kantong itu Dikosongkan” dengan hati luka. Di daerah pendudukannya
Belanda senantiasa memperkuat kemiliterannya, disamping Republik
berusaha keras ke arah “nasionalisasi” katanya.
Tetapi...tetapi...walaupun daerah Republik tinggal lebih kurang 1% dari
luasnya tanah air Indonesia...walaupun penduduknya yang langsung di
bawah perintahnya cuma lebih kurang 3% hasrat kemerdekan belum hilang
lenyap. Bahkan banyak tanda yang menunjukkan bahwa di daerah pendudukan
Belanda sendiri, semangat, sikap dan tindakan rakyat tak kurang tegasnya
daripada di pedalaman. Sudah hampir tiga (3) tahun rakyat Indonesia
bernafaskan hawa merdeka! Sudah hampir tiga tahun mereka merasakan pula
suasana kemerdekaan yang direbutnya dengan bambu runcing di tangan.
Dan...hampir tiga tahun pula rakyat menyaksikan “kebijaksanaan” borjuis
kecil membela kemerdekaan yang direbut oleh rakyat murba itu. Fase baru,
tingkatan massa baru, sudah tiba dalam Revolusi Indonesia ini! Murbalah
sekarang yang pantas mengambil pimpinan pembelaan kemerdekaan 100%!
Tetapi murbalah sekarang yang pantas mengambil pembelaan kemerdekaan
ini, yang harus mengisi dan menggerakkan semua organisasi pembelaan
kemerdekaan ini, murbalah pula yang harus mengisi dan menggerakkan
partai, badan ekonomi dan kelaskaran.
Murba Indonesia tetap akan bersimpati dengan perjuangan kelas murba di
luar negeri, di mana saja murba Indonesia akan tetap menerima
pertolongan batin dari manapun datangnya dan dari mana juga datangnya.
Tetapi dengan kekayaan dan istemewa alam Indonesia di bawah pimpinan
organisasi murba yang sejati akan sanggup merebut kembali seluruh
kekuasaan dalam arti politik, diplomasi, ekonomi dan kemiliteran.
Perang kemerdekaan berlainan sifatnya atas pembelaan dan penyerangan dengan perang perebutan negara!
Keinsyafan, ketangkasan serta kecakapan yang dibuktikan oleh rakyat
murba selama hampir tiga tahun ini memberikan keyakinan kepada kami,
bahwa dengan alat dan organisasi politik, ekonomi dan militer yang ada
pada kita bisa kita perbaiki, bisa kita murbakan, kita akan sanggup
menyelenggarakan pembelaan kemerdekaan kita atas dasar self-hep.
Dengan kelak terbentuknya keinsyafan serta organisasi dengan kodrat
yang selama ini sembunyi pada rakyat yang 70 juta (sekarang 103 juta
1964) pula itu, dapatlah kita memperingatkan kepada negara atau gabungan
negara mana saja, yang ingin hendak melanggar kenetralan kita, serta
ingin hendak menyeret kita ke Plan Marshall dan perang
kapitalis-imperialis, bahwa maksud penjajahan semacam itu tak akan dapat
dilakukan dengan tiada membekukan sekurang-kurangnya 150.000 imperialis
di bumi Indonesia ini. Dengan demikian maka kita dengan tak langsung
akan membantu sosialis.
Akhirnya kita akan sanggup pula menjanjikan kepada proletar asing bahwa
atas dasar kekuatan kita sendiri dengan cara kita sendiri, pada suatu
tempo, di suatu tempat kita akan dapat berjabatan tangan sampai sebagai
Negara Murba Merdeka dengan Negara Murba Merdeka.
“Berpisah kita berjuang, bersama kita memukul!”
6 Mei 1948